Agama Sebagai Fondasi Awal
a. Gunakan Kebijaksanaan
Akan halnya bagi sebuah organisasi yang tanpa satu “Interest” hanya sebagai presure group, maka jangan sampai mudah untuk terjebak pada satu pilihan yang ternyata merugikan aturan organisasi ‘dan bahkan kepentingan anggota secara keseluruhan sebesar apapun tekanan dan luar tubuh orgapisasi maka seorang pemimpin harus berani dengan “kebijaksanaannya” dan dengan sikapnya menyelamatkan amanat organisasi yang diembannya.
Tidak selalu tingkah laku yang dianggap baik itu akan benar demikian sebaliknya. Dalam situasi tertentu sebuah organisasi akan dihadapkan pada beberapa pilihan yang mau tidak mau keputusan akan diambil pemimpinnya. Maka disinilah peran etika keorganisasian akan dipertaruhkan. Pemimpin akan memutuskan sesuatu adalah demi sebesar-besarnya tujuan organisasi yang tertuang dalam perangkat aturan organisasi.
b. Suasana lingkungan
Lingkungan dimana tempat organisasi itu berada akan mempengaruhi suatu organisasi. Ambil contoh organisasi lembaga keagamaan. Ketika berbicara organisasi itu di lembaga keagamaan maka orientasi orang adalah masalah keagamaan yang dominan. Tetapi itu tidak mutlak, serta jangan memiliki asumsi mahasiswa agamis harus “nerimo” dan pasif karena sedikit-sedikit takut bertentangan deñgan ajaran agama. Demikian pula seorang tenaga pendidik janganlah mengembangkan sifat dan sikap yang tidak memberikan kondisi dinamika siswa utuk mengembangkan wäcana intelektualnya. Organisasi boleh saja ada pada lingkungan sekolah agama, namun Persoalannya "sudakkah setiap unsur didalamnya mencerminkan perilaku Praktis” keagamaan???
c. Berhati-hati
Banyak sinyalemen bahwa kehati-hatian akan mengakibatkan kelambanan dalam bertindak. Satu sisi memang benar persoalan tersebut. Bukanlah berarti kehati-hatian dalam mengambil satu keputusan tersebut sampai menunda-nunda waktu yang panjang akan tetapi adalah bagaimana pemikiran dan massa yang sebenarnya, satu permasalahan dapat dikritisi secara cermat sebelum diambil satu langkah berikutnya.
Unsur yang mengakibatkan orang kurang berhati-hati itu banyak sekali. Seperti lingkungan yang buruk, ataupun dari dalam diri seperti merasa diri kuat, berkuasa, karena sanjungan, banyak teman dan lain-lain.
Beberapa Nilai Etika Dalam Manajemen Organisasi Modern
a. Keahlian Pribadi
Seseorang yang tergabung dalam sebuah organisasi akan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar pula bagi organisasinya. Orang yang memiliki keahlian pribadi ini seperti; mempunyai komitmen dan konsekuensi yang tinggi, berinisiatif, kreatif, visi pribadi yang jelas, percaya diri sepenuhnya, tanggung jawab besar, selalu berusaha mengembangkan diri, punya kemampuan untuk mencapai hasil yang diinginkan, serta melihat realitas secara objektif.
b. Visi Bersama
Visi bersama tidak sekedar komitmen awal pendirian organisasi, tetapi juga pada kelangsungan organisasi selanjutnya. Visi bersama membangun lingkungan dimana minat individu tidak menjadi yang terpenting. Setiap orang berkeinginan menjadi bagian dari suatu yang lebih besar dari dirinya. Visi bersama yang dikembangkan dan visi pribadi akan menghasilkan komitmen, sedangkan yang dijabarkan dan instruksi tingkatan lebih tinggi (top-down) akan menghasilkan kepatuhan yang tidak memberikan dinamika dan pembelajaran.
c. Model Mental
Diandaikan model mental seseorang seperti jendela kaca dari setiap pribadi seseorang. Orang akan melihat sesuatu di lingkungannya akan berbeda-beda karena dilihat dari jendela yang berbeda. Sehingga sistem berfikirpun akan tampak kusut bila jendela tersebut tidak pernah dibersihkan. Mental model sangat mempengaruhi apa yang kita kerjakan, terutama karena mental model mempengaruhi apa yang kita lihat. Dua oráng yang berbeda dengan mental modelnya masing-masing akan melihat satu kejadian yang sama sesuai gambarán masing-masing. Mental model yang merendahkan pendapat orang lain sebenarnya menunjukkan bahwa pemilik mental model tersebut tidak berkompeten dengan masalahnya. Pemimpin yang tidak berani menguji asumsinya dan tidak berani berubah cenderung akan bertindak “jump to the conclusion”. Kegagalan untuk memperbaiki mental model tidak membantu perkembangan berpikir secara sistemik.
e. Berpikir sistemik
Merupakan fenomena pemecahan masalah dengan pola pikir kerangka yang saling berkaitan. Cara ini ditengah kompleksitasnya permasalahan keorganisasian sangat tepat. Dalam berpikir sistem yang holistik ini membuat kita tidak terjebak dalam menghindari kompleksitas, tetapi mengoorganisir kompleksitas tersebut dalam rangka mengetahui sebab permasalahan dan pemecahannya.


