Dalam sebuah bukunya William A.Cohen, menceritakan tentang seorang wartawan bernama Napoleon Hill tentang fakta yang menakjubkan merigapa pria dan wanita yang paling terkenal di dunia bisa sukses.
Fakta yang didapatkannya adalah bahwa tidak ada orang sukses yang semata-mata karena usahanya sendiri atau dengan hasil dari apa yang dilakukannya sendiri. Jadi anda hanya akan berhasil sebagai seorang pemimpin bila anda sendiri mampu menempatkan orang lain yang memiliki bakat yang lebih besar dari anda sendiri. Seorang raja Andrew-Carnegie karena kesuksesannya menggerakkan orangorang besar menuliskan satu kalimat indah dalam batu nisannya disini berbaring orang yang tahu bagaimana cara mengelilingi dirinya dengan orangorang yang lebih pandai daripada dirinya (W.A. Cohen, 1996 : 4-5). Kepemimpinan yang balk tidak tergantung pada keadaan yang baik atau suasana keia yang menyenangkan. Kemampuan andamembenikan motivasi kepada orang lain untuk bekerja sampai motivasi maksimum, itülah syaratnya.
Dalam setiap gerak sebuah organsiasi tentu tidak akan lepas dan visi dan misi organisasinya. Dalam pencapaian visi organisasi secara optimal hendaknya lewat misi atau jalan yang tidak terlepas norma atau tika sosial dapat memberikan kontribusi dalam kemajuan organisasi ditentukan beberapa faktor, seperti intern organisasi dan ekstern organisasi. Secara intern adalah bagaimana seorang pemimpin telah mengamalkan “Tata Susila” dalam tataran aktual Bagaimana pula setiap anggota organisasi tersebut berbuat dalam membangun organisasinya. Dan luar sistem; organisasi dan kinerjanya akan banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan sosial dan perkembangan jaman.
Beranjak dari keinginan untuk mengetahui peranan etik kepemimpinan dalam kemajuan sebuah organisasi maka berikut akan terungkap beberapa pemikiran yang diacu dari konsep etika dan susila agama Hindu.
Agama Sebagai Fondasi Awal
Sebuah bangunan yang kokoh akan tetap berdiri bila saat dibangun berada pada pondasi yang kuat. Lalu pondasi membangun etika dan susila dalam berorganisasi dasrnya yang mana harus kokoh? Dengan tidak berpandangan bahwa kita berfikir fanatisme sémpit maka ajaran agama adalah dasar untuk melaksanakan etika sosial dalam berorganisasi.
Dalam organisasi sebagaimana dalam satu masyarakat pada umumnya ketenteraman akan diperoleh bila intensitas komunikasi harmonis yang terjalin tinggi.
a. Gunakan Kebijaksanaan
Mana yang pantas ataupun tidak dalam sebuah organisasi dapatlah dipilah kendàti semua itu tidak mudah.
Akan halnya bagi sebuah organisasi yang tanpa satu “Interest” hanya sebagai presure group, maka jangan sampai mudah untuk terjebak pada satu pilihan yang ternyata merugikan aturan organisasi ‘dan bahkan kepentingan anggota secara keseluruhan sebesar apapun tekanan dan luar tubuh orgapisasi maka seorang pemimpin harus berani dengan “kebijaksanaannya” dan dengan sikapnya menyelamatkan amanat organisasi yang diembannya.
Tidak selalu tingkah laku yang dianggap baik itu akan benar demikian sebaliknya. Dalam situasi tertentu sebuah organisasi akan dihadapkan pada beberapa pilihan yang mau tidak mau keputusan akan diambil pemimpinnya. Maka disinilah peran etika keorganisasian akan dipertaruhkan. Pemimpin akan memutuskan sesuatu adalah demi sebesar-besarnya tujuan organisasi yang tertuang dalam perangkat aturan organisasi.
b. Suasana lingkungan
Lingkungan dimana tempat organisasi itu berada akan mempengaruhi suatu organisasi. Ambil contoh organisasi lembaga keagamaan. Ketika berbicara organisasi itu di lembaga keagamaan maka orientasi orang adalah masalah keagamaan yang dominan. Tetapi itu tidak mutlak, serta jangan memiliki asumsi mahasiswa agamis harus “nerimo” dan pasif karena sedikit-sedikit takut bertentangan deñgan ajaran agama. Demikian pula seorang tenaga pendidik janganlah mengembangkan sifat dan sikap yang tidak memberikan kondisi dinamika siswa utuk mengembangkan wäcana intelektualnya. Organisasi boleh saja ada pada lingkungan sekolah agama, namun Persoalannya "sudakkah setiap unsur didalamnya mencerminkan perilaku Praktis” keagamaan???
c. Berhati-hati
Banyak sinyalemen bahwa kehati-hatian akan mengakibatkan kelambanan dalam bertindak. Satu sisi memang benar persoalan tersebut. Bukanlah berarti kehati-hatian dalam mengambil satu keputusan tersebut sampai menunda-nunda waktu yang panjang akan tetapi adalah bagaimana pemikiran dan massa yang sebenarnya, satu permasalahan dapat dikritisi secara cermat sebelum diambil satu langkah berikutnya.
Unsur yang mengakibatkan orang kurang berhati-hati itu banyak sekali. Seperti lingkungan yang buruk, ataupun dari dalam diri seperti merasa diri kuat, berkuasa, karena sanjungan, banyak teman dan lain-lain.
Beberapa Nilai Etika Dalam Manajemen Organisasi Modern
a. Keahlian Pribadi
Seseorang yang tergabung dalam sebuah organisasi akan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar pula bagi organisasinya. Orang yang memiliki keahlian pribadi ini seperti; mempunyai komitmen dan konsekuensi yang tinggi, berinisiatif, kreatif, visi pribadi yang jelas, percaya diri sepenuhnya, tanggung jawab besar, selalu berusaha mengembangkan diri, punya kemampuan untuk mencapai hasil yang diinginkan, serta melihat realitas secara objektif.
b. Visi Bersama
Visi bersama tidak sekedar komitmen awal pendirian organisasi, tetapi juga pada kelangsungan organisasi selanjutnya. Visi bersama membangun lingkungan dimana minat individu tidak menjadi yang terpenting. Setiap orang berkeinginan menjadi bagian dari suatu yang lebih besar dari dirinya. Visi bersama yang dikembangkan dan visi pribadi akan menghasilkan komitmen, sedangkan yang dijabarkan dan instruksi tingkatan lebih tinggi (top-down) akan menghasilkan kepatuhan yang tidak memberikan dinamika dan pembelajaran.
c. Model Mental
Diandaikan model mental seseorang seperti jendela kaca dari setiap pribadi seseorang. Orang akan melihat sesuatu di lingkungannya akan berbeda-beda karena dilihat dari jendela yang berbeda. Sehingga sistem berfikirpun akan tampak kusut bila jendela tersebut tidak pernah dibersihkan. Mental model sangat mempengaruhi apa yang kita kerjakan, terutama karena mental model mempengaruhi apa yang kita lihat. Dua oráng yang berbeda dengan mental modelnya masing-masing akan melihat satu kejadian yang sama sesuai gambarán masing-masing. Mental model yang merendahkan pendapat orang lain sebenarnya menunjukkan bahwa pemilik mental model tersebut tidak berkompeten dengan masalahnya. Pemimpin yang tidak berani menguji asumsinya dan tidak berani berubah cenderung akan bertindak “jump to the conclusion”. Kegagalan untuk memperbaiki mental model tidak membantu perkembangan berpikir secara sistemik.
d. Pembelajaran TeamAkan halnya bagi sebuah organisasi yang tanpa satu “Interest” hanya sebagai presure group, maka jangan sampai mudah untuk terjebak pada satu pilihan yang ternyata merugikan aturan organisasi ‘dan bahkan kepentingan anggota secara keseluruhan sebesar apapun tekanan dan luar tubuh orgapisasi maka seorang pemimpin harus berani dengan “kebijaksanaannya” dan dengan sikapnya menyelamatkan amanat organisasi yang diembannya.
Tidak selalu tingkah laku yang dianggap baik itu akan benar demikian sebaliknya. Dalam situasi tertentu sebuah organisasi akan dihadapkan pada beberapa pilihan yang mau tidak mau keputusan akan diambil pemimpinnya. Maka disinilah peran etika keorganisasian akan dipertaruhkan. Pemimpin akan memutuskan sesuatu adalah demi sebesar-besarnya tujuan organisasi yang tertuang dalam perangkat aturan organisasi.
b. Suasana lingkungan
Lingkungan dimana tempat organisasi itu berada akan mempengaruhi suatu organisasi. Ambil contoh organisasi lembaga keagamaan. Ketika berbicara organisasi itu di lembaga keagamaan maka orientasi orang adalah masalah keagamaan yang dominan. Tetapi itu tidak mutlak, serta jangan memiliki asumsi mahasiswa agamis harus “nerimo” dan pasif karena sedikit-sedikit takut bertentangan deñgan ajaran agama. Demikian pula seorang tenaga pendidik janganlah mengembangkan sifat dan sikap yang tidak memberikan kondisi dinamika siswa utuk mengembangkan wäcana intelektualnya. Organisasi boleh saja ada pada lingkungan sekolah agama, namun Persoalannya "sudakkah setiap unsur didalamnya mencerminkan perilaku Praktis” keagamaan???
c. Berhati-hati
Banyak sinyalemen bahwa kehati-hatian akan mengakibatkan kelambanan dalam bertindak. Satu sisi memang benar persoalan tersebut. Bukanlah berarti kehati-hatian dalam mengambil satu keputusan tersebut sampai menunda-nunda waktu yang panjang akan tetapi adalah bagaimana pemikiran dan massa yang sebenarnya, satu permasalahan dapat dikritisi secara cermat sebelum diambil satu langkah berikutnya.
Unsur yang mengakibatkan orang kurang berhati-hati itu banyak sekali. Seperti lingkungan yang buruk, ataupun dari dalam diri seperti merasa diri kuat, berkuasa, karena sanjungan, banyak teman dan lain-lain.
Beberapa Nilai Etika Dalam Manajemen Organisasi Modern
a. Keahlian Pribadi
Seseorang yang tergabung dalam sebuah organisasi akan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar pula bagi organisasinya. Orang yang memiliki keahlian pribadi ini seperti; mempunyai komitmen dan konsekuensi yang tinggi, berinisiatif, kreatif, visi pribadi yang jelas, percaya diri sepenuhnya, tanggung jawab besar, selalu berusaha mengembangkan diri, punya kemampuan untuk mencapai hasil yang diinginkan, serta melihat realitas secara objektif.
b. Visi Bersama
Visi bersama tidak sekedar komitmen awal pendirian organisasi, tetapi juga pada kelangsungan organisasi selanjutnya. Visi bersama membangun lingkungan dimana minat individu tidak menjadi yang terpenting. Setiap orang berkeinginan menjadi bagian dari suatu yang lebih besar dari dirinya. Visi bersama yang dikembangkan dan visi pribadi akan menghasilkan komitmen, sedangkan yang dijabarkan dan instruksi tingkatan lebih tinggi (top-down) akan menghasilkan kepatuhan yang tidak memberikan dinamika dan pembelajaran.
c. Model Mental
Diandaikan model mental seseorang seperti jendela kaca dari setiap pribadi seseorang. Orang akan melihat sesuatu di lingkungannya akan berbeda-beda karena dilihat dari jendela yang berbeda. Sehingga sistem berfikirpun akan tampak kusut bila jendela tersebut tidak pernah dibersihkan. Mental model sangat mempengaruhi apa yang kita kerjakan, terutama karena mental model mempengaruhi apa yang kita lihat. Dua oráng yang berbeda dengan mental modelnya masing-masing akan melihat satu kejadian yang sama sesuai gambarán masing-masing. Mental model yang merendahkan pendapat orang lain sebenarnya menunjukkan bahwa pemilik mental model tersebut tidak berkompeten dengan masalahnya. Pemimpin yang tidak berani menguji asumsinya dan tidak berani berubah cenderung akan bertindak “jump to the conclusion”. Kegagalan untuk memperbaiki mental model tidak membantu perkembangan berpikir secara sistemik.
Adalah satu proses pengembangan kemampuan bersama untuk mencapai hasil yang sesungguhnya. Esensi yang terkandung ada tiga hal : Keharusan berfikir jernih dan mendalam terhadap issue, bertindak inovatif, kesediaan anggota team untuk berperan dalam team yang lain dan saling melengkapi. Pembelajaran ini secara benar akan menghasilkan sinergi yang berpengaruh pada keputusan keputusan cerdas.
e. Berpikir sistemik
Merupakan fenomena pemecahan masalah dengan pola pikir kerangka yang saling berkaitan. Cara ini ditengah kompleksitasnya permasalahan keorganisasian sangat tepat. Dalam berpikir sistem yang holistik ini membuat kita tidak terjebak dalam menghindari kompleksitas, tetapi mengoorganisir kompleksitas tersebut dalam rangka mengetahui sebab permasalahan dan pemecahannya.
e. Berpikir sistemik
Merupakan fenomena pemecahan masalah dengan pola pikir kerangka yang saling berkaitan. Cara ini ditengah kompleksitasnya permasalahan keorganisasian sangat tepat. Dalam berpikir sistem yang holistik ini membuat kita tidak terjebak dalam menghindari kompleksitas, tetapi mengoorganisir kompleksitas tersebut dalam rangka mengetahui sebab permasalahan dan pemecahannya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar